The Divided Self

apa yang terjadi pada kesadaran jika dua belahan otak manusia dipisahkan

The Divided Self
I

Pernahkah kita merasa seperti ada dua orang berbeda yang sedang berdebat di dalam kepala kita? Saat sedang diet, tangan yang satu ingin sekali mengambil sepotong donat cokelat, tapi hati kecil kita menjerit protes. Kita sering menganggap konflik semacam itu cuma kiasan belaka. Namun, mari kita coba bayangkan sebuah skenario yang sedikit ekstrem. Bagaimana kalau kiasan itu... benar secara harfiah? Bagaimana kalau di dalam tengkorak kita yang terasa padat ini, sebenarnya ada dua entitas yang hidup berdampingan, dan mereka tidak selalu setuju satu sama lain? Selamat datang di salah satu misteri paling menakjubkan dalam dunia neurosains, di mana kita akan mempertanyakan siapa sebenarnya "aku" yang selama ini kita kenal.

II

Otak kita terbagi menjadi dua belahan utama: kiri dan kanan. Mereka berkomunikasi lewat sebuah jembatan tebal bernama corpus callosum, sebuah jalan tol saraf yang berisi ratusan juta serabut. Jembatan ini memastikan otak kiri tahu apa yang dikerjakan otak kanan, begitu juga sebaliknya. Semuanya berjalan harmonis. Namun, mari kita mundur sejenak ke pertengahan abad ke-20. Saat itu, para dokter bedah sedang putus asa menghadapi pasien dengan penyakit epilepsi parah. Badai listrik di otak menyebar liar dari satu belahan ke belahan lain, memicu kejang yang sangat menyiksa dan mengancam nyawa. Untuk menghentikan badai ini, para dokter mengambil langkah yang sangat radikal: mereka memotong jembatan tersebut. Operasinya berhasil. Kejang pasien berhenti. Pasien pun tampak normal, bisa mengobrol, berjalan, dan tertawa seperti biasa. Semuanya terlihat sempurna, sampai para ilmuwan mulai memperhatikan detail-detail kecil yang terasa janggal.

III

Di sinilah cerita kita menjadi sedikit mirip film fiksi ilmiah. Seorang ilmuwan pemenang Nobel, Roger Sperry, dan muridnya, Michael Gazzaniga, mulai melakukan serangkaian eksperimen pada pasien dengan otak yang terbelah ini, atau biasa disebut pasien split-brain. Mereka menemukan fenomena yang bikin merinding. Bayangkan ini terjadi pada kita. Teman-teman melihat sebuah objek, katakanlah gambar sebuah kunci, tapi gambar itu hanya diperlihatkan ke mata sebelah kiri. Karena anatomi saraf kita menyilang, informasi dari mata kiri ini hanya masuk ke otak kanan. Saat ilmuwan bertanya, "Gambar apa yang barusan dilihat?", mulut pasien akan menjawab, "Saya tidak melihat apa-apa." Mulut dikendalikan oleh otak kiri yang memang tidak melihat gambar tersebut. Aneh, kan? Tapi tunggu dulu. Ketika tangan kiri pasien—yang dikendalikan oleh otak kanan—diminta meraba tumpukan barang di bawah meja, tangan itu tanpa ragu mengambil sebuah kunci! Mulut bilang tidak tahu, tapi tangan tahu persis apa yang harus dilakukan. Dalam kasus yang lebih ekstrem, ada pasien yang sedang mengancingkan kemeja dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya malah bergerak sendiri membuka kancing tersebut. Dua belahan otak ini punya keinginan sendiri-sendiri. Lalu, muncul pertanyaan besar yang membuat para ilmuwan terdiam. Kalau otak kiri dan otak kanan bisa bertindak independen, lalu siapakah "aku" yang sebenarnya? Di manakah letak kesadaran kita bernaung?

IV

Jawabannya mungkin akan sedikit mengguncang cara kita memandang diri kita sendiri. Dari penelitian bertahun-tahun, Gazzaniga menemukan bahwa otak kiri kita ternyata punya satu tugas khusus. Ia adalah sang pencerita, yang oleh Gazzaniga sebut sebagai The Interpreter. Otak kiri ini sangat logis, cerewet, dan selalu butuh alasan untuk menjelaskan segala hal yang terjadi pada tubuhnya. Saat otak kanan melakukan sesuatu yang impulsif tanpa sepengetahuan otak kiri, otak kiri panik karena tidak mau terlihat bodoh atau kehilangan kendali. Jadi, apa yang ia lakukan? Ia mengarang cerita. Dalam sebuah eksperimen, otak kanan pasien diperintah secara diam-diam untuk berjalan. Pasien pun berdiri dan mulai berjalan. Ketika ilmuwan bertanya kepada pasien, "Kenapa Anda berjalan pergi?", otak kiri si pasien yang kebingungan tidak menjawab "Saya tidak tahu." Ia dengan cepat mengarang alasan, "Oh, saya mau ambil minuman ringan di sana." Ia berbohong secara refleks, tapi bagian tergilanya adalah: pasien itu sangat yakin dengan kebohongannya. Kita menyadari sesuatu yang sangat mendalam dari sini. Sensasi bahwa kita adalah satu individu yang utuh, yang memegang kendali penuh atas setiap niat dan tindakan kita, ternyata sebagian besar adalah sebuah ilusi. "Aku" yang selama ini kita banggakan, hanyalah sebuah cerita karangan yang dijahit dengan sangat rapi oleh otak kiri, semata-mata untuk menutupi fakta bahwa kita adalah kumpulan sistem yang bekerja secara mandiri.

V

Kesadaran manusia ternyata jauh lebih rapuh, namun pada saat yang sama jauh lebih menakjubkan dari yang berani kita bayangkan. Faktanya, kita tidak perlu melakukan operasi split-brain untuk merasakan fenomena keterbelahan ini di kehidupan sehari-hari. Pernahkah kita bertindak impulsif karena emosi sesaat, lalu sibuk mencari-cari alasan logis setelahnya agar tindakan kita terkesan masuk akal dan kita tidak merasa bersalah? Nah, itulah The Interpreter di dalam otak kita yang sedang bekerja keras menjahit cerita fiksi. Memahami sejarah neurosains ini rasanya bisa membuat kita sedikit lebih empati, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Saat kita merasa bimbang, tidak konsisten, atau bertindak di luar kebiasaan, ingatlah bahwa di dalam kepala kita memang ada "panitia" yang sedang berdebat dan mencoba mencari benang merahnya. Mungkin, menjadi manusia bukanlah tentang menjadi satu entitas yang selalu solid, konsisten, dan tak tergoyahkan. Menjadi manusia adalah tentang merangkul segala kerumitan di dalam diri, dan menikmati cerita yang terus dikarang oleh otak kita setiap harinya. Dan sejujurnya, di tengah segala kekacauan itu, kisah tentang diri kita tetaplah mahakarya terindah yang pernah kita miliki.